Mantra Kramaning Sembah Dalam Agama Hindu

Mantra Kramaning Sembah Dalam Agama Hindu

 Mantra Kramaning Sembah atau Panca Sembah disampaikan sesudah melakukan puja Tri Sandya. Di berpura-pura secara umum, bila sembahyang bersama dengan penopang disebutkan semacam ini "Umat Sedharma, Sesudah puja Tri Sandya kita Teruskan dengan Kramaning Sembah atau Panca Sembah".

Sembah pertama dengan diawali sembah muyung tanpa fasilitas, kemudian diteruskan dengan sembah siwa aditya, diteruskan dengan, Ista Dewata, Minta Anugera, dan disudahi dengan Sembah Muyung tanpa fasilitas. ditutup dengan parama santi. Saat sebelum melakukan panca sembah ada banyak hal yang perlu jadi perhatian yaitu seperti berikut:

Penyiapan Sembahyang

Penyiapan sembahyang mencakup penyiapan lahir dan bathin. Penyiapan lahir mencakup posisi duduk yang bagus, penataan napas dan sikap tangan. Terhitung dalam penyiapan lahir adalah fasilitas penujang sembahyang seperti pakiannya harus rapi dan bersih, bunga dan dupa, dan penyiapan bathin adalah ketenangan dan kesucian pikira. Beberapa langkah penyiapan dan fasilitas prasarana sembahyang ialah seperti berikut:

Asuci Seperti

Pertama kali orang bersihkan tubuh dengan mandi. Kebersihan tubuh dan kesejukan lahir memengaruhi ketenangan hati.

Baju

Baju waktu sembahyang agar diupayakan baju yang bersih dan tidak mengusik ketenangan pemikiran. Baju yang ketat dan warna yang menonjol sebaiknya dijauhi.

Baju harus disamakan dengan dresta (rutinitas) di tempat, agar tidak mengundang perhatian orang.

Bunga atau Kwangen

Bunga atau Kwangen adlaah simbol kesucian, suapay diupayakan bunga yang fresh, bersih dan wangi. Bila dalam pemujaan tidak ada kwangen bisa ditukar dengan bunga. Ada banyak bunga yang tidak bagus untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa, bunga itu ialah: Bunga yang berulat, bunga yang luruh tanpa diguncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu yakni bunga yang melalui periode mekarnya, bunga yang tumbuh di makam. Itu beberapa jenis bunga yang tidak pantas disembahkan.

Dupa

Apinya dupa ialah symbol Sang Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita pada Sanghyang Widhi, tiap yajna dan penyembahan tidak lepas dari pemakaian api. Sebaiknya ditempatkan sebegitu rupah hingga tidak mencelakakan rekan-rekan di samping saat sembahyang.

Tempat Duduk

Tempat duduk sebaiknya diupayakan tidak mengusik ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk adalah menghadap pelinggih. Bila kemungkinan supaya memakai alas duduk seperti alas dan lain-lain.

Sikap Duduk

Posisi duduk bisa diputuskan sesuai tempat dan kondisi dan tidak mengusik ketenangan hati. Posisi duduk yang bagus untuk pria adalah posisi duduk bersila (Padmasana, Silasana, Sidhasana) dan tubuh tegak. Posisi duduk untuk wanita adalah Bajrasana yakni posisi duduk bertimpuh dengan 2 tumit kaki ditempati. Dengan ssikap ini tubuh jadi tegak lempeng, sikap ini baik sekali untuk menentramkan pemikiran.

Sikap Tangan

Sikap tangan yang bagus di saat sembahyang adalah "Lingkup kara kalih" yakni ke-2 telapak tangan dikatupkan dan ditempatkan di atas di muka ubun-ubun. Bunga atau Kwangen diapit pa ujung jemari tengah.

Sesudah semua ada, karena itu diteruskan dengan Panca sembah atau Kramaning Sembah. Secara umum, penyiapan di atas telah dipersiapkan saat sebelum melakukan puja tri sandya, langsung jadi ajah masuk ke Panca sembah atau Kramaning Sembah. Adapun beberapa langkah Kramaning Sembah ialah seperti berikut:

Posisi-urutan Sembah

Posisi-uruta sembah, baik di saat sembahyang sendiri atau sembahyang bersama ialah seperti di bawah ini, dengan catatan jika dipegang oleh Sulinggih atau Pinandita karena itu umat mengeja mantra/mantra dalam hati.

Kramaning Sembah

1. Sembah pertama tanpa bunga (sembah puyung) katakan mantra

"Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha"

Terjemahan:

"Om Atma atmanya realita ini, bersihkanlah hamba" (Dana Dan Suratnaya, 2013: 60-61).


2. Sembah ke dua yakni Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagaiSanghyang Aditya dengan fasilitas bunga katakan mantra

"Om Adityasyaparam jyotih Rakta teja namo'stute Svetapangkaja madhyasthah Bhaskarayo namo'stute"

Terjemahan:

"Om Sanghyang Widhi Wasa, cahaya Surya Yang Maha Luar biasa, Kamu berkilau merah, hormat padaMu, Kamu yang beradah ditengahnya teratai putih, hormat padaMu pembikin cahaya" (Dana Dan Suratnaya, 2013: 61).


3. Sembah ke-3 menyembah Sanghyang WIdhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan Sara Kwangen atau Bunga. Katakan mantra

"Om namo devaya adhistanaya Sarva vyapi vai sivaya Padmasana eka prathistaya Ardhanaresvarya namah svaha".

Terjemahan:

"Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat kami ke Dewa yang bersemayam pada tempat khusus ke Siwa yang sebenarnya ada di mana saja, ke Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu pas, ke Ardhanaresvarya hamba menghormat" (Dana Dan Suratnaya, 2013: 62).


4. Sembah keempat Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai pemberih karunia, dengan fasilitas kwangen atau bunga katakan mantra

"Om nugrahaka manohara, Deva dattanugrahaka, Arcanam sarva pujanam, Namah sarvanugrahaka, Om Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmaka, Laksmi siddhisca dirgahayuh Nirvighna sukha vrddhisca".

Terjemahan:

"Om Sanghyang Widhi Wasa,, kamu yang memikat hati, pemberih karunia anugerah pemberian Dewa, idola dalam semua sanjungan, hormat padaMu pemberih semua karunia. Kemahasidian Dewa dan Dewi, berbentuk Yajna, individu suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang usia, keceriaan dan perkembangan" (Dana Dan Suratnaya, 2013: 63).


5. Sembah ke Lima, Sembah Tanpa Bunga (Sembah Puyung) katakan mantra

" Om Deva Suksme Paramacintya Namag Svaha"

Terjemahan:

"Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat pada Dewa yang tidak terpikir yang maha tinggi, yang maha gaib" (Dana Dan Suratnaya, 2013: 64).


Sesudah pemujaan usai (Panca Sembah) diteruskan dengan meminta Tirtha (air suci) dan Bija/ Wibhuti.

Harus dipahami jika Secara literal "Mantra" maknanya "itu yang membuat perlindungan saat direnungkan" (Mantra Samhita, 2013 : 6). Chawdhi (2003 : 97) menerangkan mantra ialah sebuah skema kombinasi kalimat bahasa Veda yang diindentikkan dengan dewa atau dewi tertentu. Mantra ialah beberapa huruf, kata yang jadi satu.

Dalam buku Rahasia Yantra, Mantra dan Tantra (Dr. L. R. Chawdhri, (2003 : 97) diterangkan jika Mantra dipakai dalam sadhana Tantra atau beragam ritus, disampaikan atau diulangi dalam beragam gabungan dan kerangka, yang selanjutnya membuat skema vibrasi tertentu. Seorang dapat capai kesehatan yang bagus, beruntung dan kemenangannya pada lawan dengan ucapkan mantra tertentu.

Admin
Admin Terimakasih sudah mengunjungi situs kami. Jika terdapat kesalahan penulisan pada artikel atau link rusak dan masalah lainnya, mohon laporkan kepada Admin Web kami (Pastikan memberitahukan link Artikel yang dimaksud). Atau bagi anda yang ingin memberikan kritik dan saran silahkan kirimkan pesan melalui kontak form di halaman Contact Us

Posting Komentar untuk "Mantra Kramaning Sembah Dalam Agama Hindu"