Sejarah Danghyang Asthapaka

Oleh: Ida Pedanda Buda Jelantik Duaja, Griya Dauh Budakeling

Seorang Wiku Bhagawanta di kerajaan Majapahit di tanah Jawa yang termashur kebijakannya ke seluruh nusantara namanya Dang Hyang Nata Angsoka yang dijumpai dengan tuntunan ka Budhan (Budha Kasogatan/Vajrayana) dan adik beliau namanya Dang Hyang Nirartha/Dang Hyang Dwijendra yang diketahui dengan tuntunan ka iwan (Siwaisme) dan adik beliau Mpu/Dang Hyang Bajra Sandhi diketahui dengan tuntunan Brahma (Brahmaisme). Pada jaman keagungan pemerintah Dalam di Bali, adalah Dalam Sri Waturenggong yang bertahta di Puri Swecapura (Klungkung saat ini) persisnya di Gelgel seputar era XV tahun 1460-1550 Masehi, beliau ialah turunan ke-5 dari Mpu Tantular.

Pesraman Dang Hyang Astapaka dalam Estetika Pura Dang Kahyangan Taman Sari, Budakeling

Untuk lengkapi kesempurnaan pengetahuan raja di bagian kepercayaan dan untuk bekal di kehidupan akhirat. Raja memerlukan seorang wiku yang sanggup menuntun dan memberikan nasihat-nasehat ke beliau (selaku Purohita/Nabe keluarga kerajaan). Disamping itu beliau juga pengin langsungkan yajna besar yang diketahui Homa (satu upacara besar permintaan kehadapan Ida Si Hyang Widhi Wasa supaya semua kerajaan kerta raharja, hurip sarwa tinandur, adoh sasab adoh mrana, dan sejahtera rakyatnya). Menurut beliau di Bali tidak ada wiku yang dipandang memenuhi persyaratan untuk melakukan tekad raja yang diartikan. Hingga kedengarlah berita jika di Majapahit ada seseorang wiku yang namanya Dang Hyang Nata Angsoka, pada akhirnya ditetapkanlah oleh raja untuk meminta kesanggupan beliau menjadi nabe kerajaan dan muput kreasi Homa diartikan. Selanjutnya diperintah utusan kerajaan menghadap Dang Hyang Nata Angsoka.


Dang Hyang Nata Angsoka mengutarakan pada utusan raja jika, beliau benar-benar mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang diberi raja Bali itu, namun dengan benar-benar menyesal beliau tidak sanggup memenuhi tekad raja, karena saat itu pemerintah kerajaan Majapahit sedang kacau-balau dan tidak bisa tinggalkan kerajaan. Akan Tapi dia menjelaskan jika ada seorang wiku yang sangat sakti dan pakar dalam seluruh pengetahuan, yakni Dang Hyang Nirartha yang disebut adik beliau sendiri dan telah lama beliau menetap di Bali yaitu di Dusun Mas, Gianyar tahun saka 1486, supaya jadi nabe kerajaan. Setelah utusan raja kembali pada Bali, dan dikatakan ke raja, rajapun setuju lalu mengutus Gusti Arya Dauh Bali Agung untuk jemput Dang Hyang Nirartha agar beliau datang ke Gelgel untuk diksa Dalam sekeluarga.


Di Bali, tempat Pasraman pamannya yang namanya Danghyang Nirartha. Sebenarnya kedatangan Danghyang Astapaka ke Bali yaitu undangan raja kerajaan Gelgel untuk lakukan upacara Homa Yajña. Danghyang Nirartha waktu itu sudah mempunyai posisi selaku penasihat raja. Raja Dalam Waturengong selekasnya mengutus seorang bendesa untuk mengharap supaya Si Maha Rsi Siwa Budha Astapaka datang berjumpa raja di Swecapura. Esok harinya, ke-2 Maha Rsi itu pergi bersama beberapa mangala utusan Dalam mengadap Sri Aji Bali.


Setiba di istana, Dang Hyang Astapaka dikasih ujian untuk menginformasikan kekuatannya di depan raja bersama beberapa menterinya. Di halaman tatap muka, satu ekor angsa dimasukkan pada dalam satu lubang yang dikeduk, seterusnya ditutup rapat-rapat. Saat tatap muka berlangsung, angsa itu bernada. Raja kemudian menanyakan pada Danghyang Astapaka, suara apa yang barusan kedengar itu. Dengan penuh optimis, Danghyang Astapaka menyikapi jika itu ialah suara naga. Seluruh peserta meeting ketawa, tetapi mendadak satu ekor naga muncul dari dalam lubang itu. Kemudian, Danghyang Astapaka diangkap selaku penasihat spiritual yang sesuai dengan Danghyang Dwijendra.


Sesaat sesudah itu Dalam didiksa oleh Dang Hyang Nirartha. Tentang hal kehendak raja yang belum sukses, yaitu lakukan Upacara Homa, di mana saat itu raja belum mendapatkan balasan yang jelas. Pada saat itu hadirlah seorang wiku (rohaniwan) Pedanda Buda Mahayana ke Bali, yang namanya Dang Hyang Asthapaka, yakni putra Dang Hyang Nata Angsoka di Majapahit yang asal awalnya dari wilayah Keling (Jawa tengah). Atas perintah ayahandanya beliau nampak menghadap raja Bali, di mana awalnya beliau dianugrahi pengkajian semua kreasi kehidupan (yajna-yajna) terhitung upacara Homa. Kehadiran beliau ke Bali mengharap berjumpa dengan paman beliau yang berpasraman (berada tinggal) di Dusun Mas, Gianyar, Dang Hyang Asthapaka bawa pesan dari ayah beliau supaya Kreasi Homa yang disebut lanjutan kreasi padiksaan Dalam Sri Waturenggong selekasnya bisa terselenggara. Sebab baru datang, beliau dikenal juga bernama Si Hanyer Dateng atau Mpu Boddha.


Semenjak waktu itu Dang Hyang Asthapaka diangkat oleh Dalam jadi Bhagawanta (penasehat) kerajaan. Ke-2 pandita Siwa Budha mendapati hari bagus untuk melakukan yajna Homa. Dengan kesempurnaan dan keunggulan pengetahuan ke-2 bhagawanta ini Kreasi Homa pada akhirnya sukses. Sesudah upacara itu, kondisi kerajaan makin sejahtera dan tenteram. Ke-2 Si Maha Siwa dan Si Dwija Sogatha dipilih jadi Cudamani (permata) Raja. Selaku permintaan supaya Si Boddha masih tinggal di Bali dan meneruskan membina dharma karena itu disembahkan seorang putri untuk istri beliau, yaitu putri Dang Hyang Nirartha yang namanya Ni Dyah Swabhawa, yang awalnya sudah disuruh oleh Dalam. Arah persembahan putri itu, ialah supaya Dang Hyang Asthapaka masih tinggal di Bali dan memiliki turunan (Karena itu Don Putra) dan dikasih tempat pasraman di Banjar Ambengan Gianyar.


Dikisahkanlah meninggal dunianya Dalam Sri Waturenggong dengan tinggalkan 2 orang putra mahkotanya yang kanak-kanak, yaitu I Dewa Bekung dan I Dewa Sagening. Ke-2 putra mahkota Dalam berikut selaku alternatif ayahnya jadi raja. Penerapan pemerintahannya diemban atas pernyataan Patih Manggala Khusus I Gusti Batan Jeruk, yakni seorang sisya (siswa) kecintaan Dang Hyang Asthapaka.


Satu saat, sebab keangkuhan I Gusti Batan Jeruk yang pengin kuasai pemerintah kerajaan, dia bertindak tidak sama ketentuan kerajaan selanjutnya dia diundang menghadap Dang Hyang Asthapaka, tetapi dia benar-benar tidak mempedulikan nasihat-nasehat gurunya. Atas tindakan yang inginkan kekuasaan Dalam, di mana awalnya menjadi keraguan oleh Patih dan arya-arya yang lain, karena itu terjadi bentrokan dan penggempuran pada I Gusti Batan Jeruk yang pada akhirnya I Gusti Batan Jeruk terbunuh di Jungutan Dusun Bungaya, Karangasem. Ingat tragedi yang menerpa siswa (sisya) kecintaannya itu, lalu Dang Hyang Asthapaka bersama putranya Ida Banjar tinggalkan pasramannya di Dusun Ambengan.


Sesampainya beliau pada suatu bukit, yakni Bukit Penyu/Batu Penyu di sanalah beliau istirahat, sebab kemalaman. Sedang beliau nikmati keelokan alam, mendadak nampak oleh beliau seberkas sinar yang seolah-olah memancar dari bumi ke angkasa. Oleh karenanya beliau bersama putranya selekasnya melakukan samadhi (meditasi). Dalam samadhinya beliau mendapatkan wahyu yang memperlihatkan ke tempat cahaya itu, ialah lokasi yang dipilih untuk beliau membangun satu pasraman dan lokasi yang suci untuk beliau untuk satu jalan pulang ke Budhalaya. Cepatlah beliau meneruskan perjalanannya disertai putranya ke arah di mana tempat cahaya itu berasal.


Sesampainya dalam tempat itu, karena itu cahaya itu perlahan-lahan musnah. Lantas di sanalah beliau istirahat dan menanamkan tetekan (tongkat) yang dibuat dari kayu pohon tanjung (semacam bunga dengan berbau yang wangi), selaku penanda jika di sanalah beliau membangun pasraman. Terdaftar kurang lebih tahun saka 1416 beliau membangun pasraman bernama Pasraman Taman Tanjung. Nama ini diambil dari nama kayu tetekan (tongkat) barusan yang selanjutnya tumbuh hidup subur dan mekar sampai saat ini. Di samping Timur Lautnya, 500 mtr. dari Pasraman Taman Tanjung beliau membangun tempat penyembahan (Pamerajan) yang dinamai Taman Sari tempat lakukan yoga samadhi, disini beliau capai Nirwana (Moksa).


Sesudah Dang Hyang Asthapaka capai moksa, Pasraman Taman Tanjung dihuni dan dipiara oleh putra beliau Ida Banjar yang sesudah di dwijati namanya Ida Pedanda Made Banjar bersama istrinya. Pedanda ini berputra Ida Wayan Tangeb/Ida Pedanda Wayan Tangeb, yang selanjutnya beliau mempunyai 3 orang istri, yaitu (1) I Gusti Ayu Jelantik berputra 2 orang (Ida Pedanda Wayan Tegeh tinggal di Griya Tegeh, Budakeling dan Ida Pedanda Made Banjar berpindah tinggal di Bebatuan, Gianyar); (2) I Dewa Ayu Istri Beng Gianyar berputra 3 orang lelaki dan 4 orang wanita (Ida Pedanda Wayan Dawuh tinggal di Griya Kauhan Budakeling, Ida Pedanda Wayan Tangeb tinggal di Griya Krotok dan Ida Pedanda Made Pangkur berpindah tinggal di Griya Teman, Melarikan dan (3) Ida Pedanda Istri Alit Kemenuh berputra 2 orang (Ida Pedanda Wayan Alit tinggal di Griya Alit dan Ida Pedanda Made Mas berpindah tinggal di Tianyar).


Dikisahkan Ida Pedanda Wayan Tegeh (Griya Tegeh) berputra 6 orang (Ida Pedanda Wayan Gianyar tinggal di Griya Tegeh, Ida Pedanda Gede Linggasana tinggal di Griya Gede, Ida Pedanda Wayan Dangin tinggal di Griya Dangin Betenan, Ida Pedanda Raka tinggal di Griya Pekarangan, Ida Pedanda Gede Rai tinggal di Griya pekarangan Danginan, Ida Pedanda Kantrog tinggal di Griya Dangin Duuran. Di saat Pedanda Wayan Dangin ambil istri yang pertama, yakni I Gusti Ngurah Istri Sidemen, saudara I Gusti Ngurah Sidemen Sakti, ini diperlengkapi pangiring (penganut). Di mana pangiring-pngiringnya terdiri dari tiga barisan, yaitu:


1. Pande Mas di Banjar Pande Mas 2. Pande Besi di Banjar Pande Besi 3. Balian satu keluarga di Banjar Balian dan saat ini telah musnah (tidak memiliki turunan) dibarengi patung/togog berbentuk Delem dan Sangut. Patung itu masihlah ada sampai saat ini dan ditempatkan di Griya Jelantik Budakeling Keluarga Pande Mas diberi tempat di samping Barat pamerajan Taman Sari, keluarga Pande Besi diberi tempat di samping Selatan pamerajan taman Sari, dan keluarga Balian diberi tempat di samping Barat pasraman Taman Tanjung. Di tahun saka 1634 (1712 Masehi) terjadi musibah alam meletusnya Gunung Agung yang keempat kali, mengakibatkan banjir lahar di sungai samping Timur Pemrajan Taman Sari, mulai sejak sungai itu disebutkan sungai/Tukad Mbah Api/Mbah Geni. Musibah itu yang menyebabkan beliau dan seluruh keluarga pratisentana (turunan) nya yang tinggal dalam tempat itu dengan seluruh pangiring-pangiringnya (penganut) beralih tempat ke arah Barat di samping Selatan Bukit Pinggan (Bukit Pucuk Sari) 500 mtr. dari Pasraman Taman Tanjung.


Di sanalah beliau bersama pangiringnya cari pelindungan dan membangun perumahan/permukiman. Ingat jalinan baik di antara Pedanda Wayan Dangin dengan I Gusti Ngurah Sidemen Sakti, (sebab saudara I Gusti Ngurah Sidemen jadi istri Pedanda Wayan Dangin), karena itu I Gusti Ngurah Sidemen Sakti yang mempunyai dan mewenangkan daerah itu, dengan setulus hati menghaturkan (menyembahkan) tempat itu ke Pedanda Wayan Dangin, bermaksud supaya tempat daerah itu jadi rumah beliau dengan keluarganya dan pangiring-pangiringnya. Perihal ini pula yang mengakibatkan Pedanda Wayan Dangin bersama saudara-saudara beliau bersepakat untuk membangun bangunan-bangunan pada sebuah ikatan Dusun.

Admin
Admin Terimakasih sudah mengunjungi situs kami. Jika terdapat kesalahan penulisan pada artikel atau link rusak dan masalah lainnya, mohon laporkan kepada Admin Web kami (Pastikan memberitahukan link Artikel yang dimaksud). Atau bagi anda yang ingin memberikan kritik dan saran silahkan kirimkan pesan melalui kontak form di halaman Contact Us

Posting Komentar untuk "Sejarah Danghyang Asthapaka"